FokusMedis – Niatnya cuma mengecek kabar terbaru, tetapi tahu-tahu sudah berjam-jam menatap layar. Berita kriminal, bencana, konflik, hingga berbagai kejadian yang bikin cemas terus bermunculan. Bukannya merasa lebih paham situasi, pikiran malah semakin penuh.
Kebiasaan tersebut dikenal sebagai doomscrolling, yaitu perilaku terus menggulir media sosial atau membaca berita negatif meski aktivitas itu mulai memengaruhi suasana hati. Kebiasaan ini sering dianggap sepele, padahal jika berlangsung berlebihan, dampaknya bisa merembet ke kesehatan mental, konsentrasi, dan waktu tidur.
Kenapa Doomscrolling Bikin Susah Berhenti?
Ada alasan mengapa seseorang terus membaca berita buruk meski sudah merasa tidak nyaman. Manusia cenderung memberi perhatian lebih besar pada informasi yang dianggap mengancam. Dalam psikologi, kecenderungan ini disebut negativity bias.
Ketika menemukan berita yang mengkhawatirkan, seseorang mungkin terdorong mencari informasi tambahan demi memastikan dirinya memahami situasi. Namun, semakin banyak membaca, semakin banyak pula hal yang berpotensi memicu kecemasan.
Desain media sosial ikut berperan. Fitur infinite scroll memungkinkan pengguna berpindah dari satu konten ke konten berikutnya tanpa jeda yang jelas. Rekomendasi algoritma dan notifikasi juga membuat pengguna mudah kembali membuka aplikasi.
Baca juga: Doomscrolling Bikin Pikiran Susah Tenang? Kebiasaan Scroll yang Diam-Diam Menguras Energi
Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental
1. Pikiran lebih mudah cemas
Terlalu sering terpapar kabar buruk bisa membuat seseorang merasa seolah-olah bahaya selalu mengintai. Sebagian orang mungkin menjadi lebih gelisah, sulit menenangkan pikiran, atau terus memikirkan kejadian yang baru dibaca.
2. Konsentrasi mulai terganggu
Baru membaca satu berita, perhatian sudah berpindah ke video atau unggahan lain. Jika kebiasaan ini terus berulang, aktivitas belajar dan bekerja bisa terasa lebih sulit karena perhatian kerap terpecah.
3. Suasana hati ikut memburuk
Membaca banyak informasi negatif dalam satu waktu dapat membuat hari terasa lebih suram. Pada sebagian orang, kebiasaan memikirkan ulang berita yang mengganggu juga bisa memperpanjang rasa cemas.
4. Waktu tidur berantakan
Satu unggahan sering berujung pada puluhan unggahan berikutnya. Akibatnya, waktu tidur mundur tanpa disadari. Konten yang memancing emosi juga dapat membuat pikiran tetap aktif ketika tubuh seharusnya mulai beristirahat.
Cara Mengurangi Kebiasaan Doomscrolling
Berhenti scrolling tidak harus dimulai dengan menghapus semua aplikasi. Coba lakukan perubahan kecil yang realistis.
- Tentukan waktu membaca berita. Periksa informasi pada waktu tertentu, bukan setiap kali muncul notifikasi.
- Jauhkan ponsel sebelum tidur. Beri jeda dari layar agar tubuh punya kesempatan bersiap untuk beristirahat.
- Matikan notifikasi yang tidak mendesak. Cara ini membantu mengurangi dorongan untuk terus mengecek ponsel.
- Pilih sumber informasi dengan lebih cermat. Tidak semua unggahan perlu dibaca atau ditanggapi.
- Alihkan perhatian ke kegiatan offline. Berjalan santai, berolahraga, membaca buku, atau mengobrol dengan teman bisa menjadi pilihan.
Jika kecemasan, gangguan tidur, atau kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari terus berlanjut, pertimbangkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.
Jangan Sampai Berita Menguasai Pikiran
Mengikuti perkembangan dunia memang penting, tetapi terus-menerus membaca kabar buruk bukan satu-satunya cara untuk tetap mendapat informasi. Mengenali batas penggunaan media sosial justru membantu kita memilah mana informasi yang benar-benar dibutuhkan.
Kalau scrolling mulai membuat pikiran lelah, tidak ada salahnya menutup aplikasi sejenak. Dunia digital akan tetap ada, bahkan ketika kamu memilih untuk beristirahat.