xr:d:DAFuNfU6nUs:2,j:4920585242178881413,t:23091205
Fokusmedis – Anak yang mendadak pendiam, gampang marah, atau kehilangan semangat belum tentu sekadar sedang mencari perhatian. Bisa jadi, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, tetapi ia belum tahu bagaimana cara mengungkapkannya.
Kesehatan mental anak dan remaja kerap luput dari perhatian karena masalahnya tidak selalu terlihat jelas. Berbeda dengan luka fisik, tekanan emosional bisa tersembunyi di balik senyum, rutinitas sekolah, atau kebiasaan bermain bersama teman.
Momentum Mental Health Awareness Month yang diperingati setiap Mei menjadi pengingat bahwa kesehatan mental perlu dibicarakan secara terbuka. Bukan hanya ketika seseorang sudah mengalami kesulitan berat, tetapi juga dalam keseharian, saat anak mulai belajar memahami emosi dan menghadapi tekanan.
Masalah Mental Anak Tidak Selalu Terlihat
Perubahan suasana hati merupakan bagian dari proses tumbuh kembang. Namun, orang tua perlu lebih peka jika perubahan tersebut berlangsung lama atau mulai mengganggu aktivitas anak.
Kesulitan tidur, mudah tersinggung, menarik diri dari pergaulan, kehilangan minat pada kegiatan favorit, hingga sulit berkonsentrasi bisa menjadi tanda bahwa anak sedang menghadapi tekanan. Keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut yang berulang juga patut diperhatikan, terutama jika muncul bersamaan dengan perubahan perilaku.
Tanda-tanda tersebut tidak otomatis berarti anak mengalami gangguan mental. Meski begitu, percakapan yang tenang dan pemeriksaan oleh tenaga profesional dapat membantu mencari tahu penyebabnya.
Baca juga: Merasa Cemas Tanpa Sebab? Bisa Jadi Obat yang Kamu Minum Ikut Berperan
Media Sosial Bukan Satu-satunya Sumber Tekanan
Kehidupan anak sekarang tidak lepas dari internet. Foto, video, tren, dan komentar di media sosial bisa memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri. Kebiasaan membandingkan penampilan atau kehidupan dengan orang lain pun dapat menambah tekanan.
Tetapi, persoalannya tidak berhenti di layar ponsel. Konflik keluarga, perundungan, kesulitan ekonomi, kehilangan orang terdekat, hingga pengalaman bencana juga bisa mengguncang kondisi emosional anak.
Bagi anak yang hidup di wilayah konflik atau terpaksa meninggalkan rumah, rasa takut dan kehilangan keamanan dapat menjadi beban tersendiri. Situasi seperti ini membutuhkan dukungan yang lebih luas, bukan sekadar imbauan agar anak tetap berpikir positif.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Tidak semua percakapan harus berakhir dengan nasihat. Terkadang, anak hanya ingin didengarkan tanpa langsung disalahkan atau dibandingkan dengan orang lain.
Orang tua bisa memulai dengan pertanyaan sederhana, seperti, “Belakangan ini ada yang bikin kamu kepikiran?” Setelah itu, beri kesempatan anak menjawab sesuai kenyamanannya.
Menjaga rutinitas tidur, menyediakan waktu bermain, membatasi penggunaan gawai secara wajar, dan menciptakan suasana rumah yang aman juga dapat membantu menjaga kesejahteraan emosional.
Jika perubahan perilaku terus berlangsung, semakin berat, atau mengganggu sekolah dan hubungan sosial, jangan ragu mencari bantuan psikolog, psikiater, atau dokter sesuai kebutuhan.
Kesehatan Mental
UNICEF Dorong Perhatian Lebih Besar terhadap Anak
UNICEF turut mendorong dukungan kesehatan mental dan psikososial bagi anak-anak, khususnya mereka yang menghadapi konflik, pengungsian, dan bencana. Pendekatannya mencakup dukungan emosional, lingkungan ramah anak, serta keterlibatan keluarga dan komunitas.
Inisiatif yang melibatkan kaum muda, termasuk NextGen, juga menunjukkan pentingnya memberi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan pengalaman dan pandangan mereka.
Pada akhirnya, kesehatan mental anak dan remaja bukan urusan anak itu sendiri. Keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan masyarakat punya peran dalam menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.
Anak tidak harus menunggu sampai benar-benar kewalahan untuk mendapat perhatian. Mendengarkan sejak awal bisa membantu mereka merasa lebih dipahami dan lebih berani mencari pertolongan.



