Fokusmedis – Awalnya cuma ingin mengecek kabar terbaru. Eh, tahu-tahu sudah setengah jam berlalu, sementara layar ponsel masih dipenuhi berita konflik, bencana, kriminalitas, dan berbagai kabar buruk lainnya. Kalau sering mengalami hal seperti ini, bisa jadi kamu sedang terjebak dalam kebiasaan yang disebut doomscrolling.
Istilah ini merujuk pada perilaku terus menggulir media sosial atau situs berita untuk membaca informasi negatif, bahkan ketika konten tersebut mulai memicu kecemasan. Kebiasaan ini makin mudah terbentuk karena informasi baru terus bermunculan, seolah selalu ada hal lain yang perlu diketahui.
Padahal, tidak semua informasi harus diikuti saat itu juga. Terlalu lama berkutat dengan kabar buruk bisa membuat pikiran sulit beristirahat, apalagi jika dilakukan menjelang tidur.
Ketika Kabar Buruk Membuat Pikiran Terus Gelisah
Salah satu hal yang perlu diwaspadai dari doomscrolling adalah pengaruhnya terhadap kondisi emosional. Membaca berita negatif secara berulang dapat membuat seseorang merasa lebih khawatir, tegang, atau kewalahan menghadapi berbagai kemungkinan buruk.
Situasinya bisa makin rumit ketika muncul FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal informasi. Keinginan untuk selalu tahu perkembangan terbaru akhirnya mendorong seseorang membuka ponsel berkali-kali, meski sebenarnya tidak ada hal mendesak yang perlu diperiksa.
Jika kebiasaan ini terus berulang, waktu untuk menenangkan diri pun semakin berkurang. Bagi orang yang sedang menghadapi tekanan psikologis, paparan informasi negatif yang berlebihan juga bisa terasa semakin membebani.
Baca juga: Merasa Cemas Tanpa Sebab? Bisa Jadi Obat yang Kamu Minum Ikut Berperan
Efeknya Bisa Merembet ke Kondisi Fisik
Dampak doomscrolling bukan hanya soal pikiran yang sulit tenang. kecanduan smartphone terlalu lama, terutama tanpa jeda, juga dapat memicu keluhan fisik.
Beberapa di antaranya adalah mata terasa kering atau lelah, leher kaku, bahu pegal, hingga sakit kepala. Keluhan tersebut dapat berkaitan dengan durasi menatap layar dan posisi tubuh saat menggunakan ponsel.
Ada pula masalah tidur yang kerap luput diperhatikan. Ketika seseorang terus membaca berita sampai larut malam, waktu istirahat bisa terpotong. Akibatnya, tubuh tidak mendapat kesempatan tidur yang cukup.
Perlu diingat, keluhan-keluhan tersebut tidak otomatis disebabkan oleh doomscrolling. Durasi penggunaan perangkat, kondisi kesehatan, serta kebiasaan sehari-hari turut berperan.
Gaya Hidup
Cara Berhenti Scroll Sebelum Kebablasan
Mengurangi doomscrolling tidak harus dimulai dengan menghapus semua aplikasi media sosial. Cobalah membuat batas waktu penggunaan ponsel dan menonaktifkan notifikasi yang tidak penting.
Kamu juga bisa menentukan waktu khusus untuk membaca berita, alih-alih terus mengecek linimasa sepanjang hari. Saat mulai merasa gelisah atau lelah, tutup aplikasi sejenak dan lakukan kegiatan lain, seperti berjalan santai, membaca buku, atau berbincang dengan orang terdekat.
Menjelang tidur, beri jarak antara aktivitas menggunakan ponsel dan waktu beristirahat. Pilih pula informasi dari sumber tepercaya agar tidak terus terseret konten sensasional yang belum tentu akurat.
Jika kecemasan atau gangguan tidur berlangsung terus-menerus hingga menghambat aktivitas sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan psikolog atau tenaga kesehatan profesional.
Mengikuti berita memang penting, tetapi kamu tidak harus membaca semuanya dalam satu waktu. Sesekali berhenti menggulir layar bukan berarti tidak peduli dengan keadaan dunia. Bisa jadi, itulah cara sederhana untuk memberi ruang bagi pikiran agar kembali tenang.